Judul: An Encore
Tokoh: Cho Jino, Kim Jonghyun, Kim Kibum (*akhirnya aku menemukan korban baru yang akan jadi tokoh utama untuk cerita cerita abstrak milikku)
Kata pengantar: terinspirasi dari lirik lagu An Encore-nya SHINee, lagu paling favorit di album Odd yang emang Odd :p
### An Encore ###
Jonghyun tersenyum sambil membetulkan dasinya di hadapan sebuah cermin besar di kamarnya yang juga merangkap sebagai kamar adiknya, Kim Kibum. Berputar ke kanan dan ke kiri, melihat dan menilai penampilannya yang berbeda dari biasanya. Malam ini ia harus tampil sempurna.
Jadi lupakan celana jeans robek dan t-shirt yang biasa ia gunakan! Malam ini hanya boleh ada kemeja, jas dan celana kain yang sudah disetrika rapih yang menempel di tubuh tegapnya. Ini adalah hari besar untuknya, hari yang amat bersejarah, jadi dia harus berpenampilan berbeda dan membuat orang yang akan ditemuinya menganga karena takjub.
"Jjong-hyung, berhenti bercermin dan segera pergi, bukannya kamu bilang sudah ada janji jam 8 malam?" tanya Kibum yang sudah sangat jengah melihat kelakuan hyung-nya yang hanya berputar-putar di depan cermin.
"Aku harus memastikan penampilanku, Ki! Bagaimana? Sudah sempurna belum?"
"Sudah kok!"
"Benarkah?" tanya Jonghyun tak percaya.
"Jadi kamu meragukan selera fashion-ku hyung?" balas Kibum kesal sambil melempar bantal dari ranjang tempatnya memperhatikan Jonghyun sedari tadi.
"Yak! Kamu merusak penampilanku!" protes Jonghyun tak kalah kesal dan Kibum hanya memutar bola matanya malas sambil beranjak meninggalkan kamar tidur mereka, "oya hyung, sebaiknya kamu benar-benar menghentikan acara bercerminmu, ini sudah hampir jam 7.45 dan kamu masih ada di sini?!" pesan Kibum sebelum menutup pintu kamar dan meninggalkan Jonghyun yang semakin 'riweuh' karena tak menyangka bahwa ia sudah lebih dari dua jam berputar-putar di depan cermin.
Buru-buru ia mengambil kunci mobil dan sebuah kotak beludru kecil yang sedari tadi sudah siap di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sedikit berdoa agar jalanan kota Seoul tidak terlalu macet sehingga ia bisa sampai tepat waktu ke tempat janjiannya denga Jino, kekasihnya.
Jonghyun memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak mau sampai menabrak pembatas jalan dan berakhir di rumah sakit seperti dua tahun lalu. Ya, dua tahun lalu, Jonghyun memang pernah mengalami kecelakaan karena ugal-ugalan saat akan menemui Jino yang sudah menunggu di restoran favorit mereka untuk merayakan hari jadi mereka yang ke-3. Itu benar-benar kenangan yang buruk, selain karena merusak acara kencannya dengan Jino, kecelakaan itu juga membuat Jino merasa bersalah dan melepas mimpinya untuk menjadi idol demi menjaga Jonghyun saat itu.
Lagi pula malam ini, jalanan kota Seoul tidak seramai biasanya. Jonghyun pasti bisa sampai tepat waktu, pikirnya, sebelum mobil yang ditumpanginya tiba-tiba makin melambat dan terpaksa harus diarahkan ke bahu jalan agar tak menggangu pengguna jalan yang lainnya.
"Kenapa ini?" tanya Jonghyun sambil mencoba men-starter mobilnya beberapa kali, namun mobil tersebut tidak menunjukkan tanda akan menyala lagi. Dan Jonghyun hampir menjedugan kepalanya ke kemudi mobil ketika menyadari kalau mobilnya kehabisan bensin, "sial!! Kenapa harus di saat seperti ini?!" kata Jonghyun frustasi sambil menarik rambut yang mulai gondrong.
### An Encore ###
Jino benci menunggu, dan harusnya Jonghyun tahu itu, mengingat ini sudah tahun kelima mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Dan tahun ketujuh, sejak mereka berkenalan karena sama-sama menjadi trainee di sebuah agensi.
Jino melirik jam di tangan kanannya lagi, sudah hampir setengah jam dan Jonghyun belum juga menampakan batang hidung. Rasanya Jino ingin menangis saking kesalnya, ia sudah berusaha menghubungi smartphone Jonghyun tapi malah operator yang menjawab panggilannya. Jino juga sudah menelepon Kibum dan Kibum bilang Jonghyun sudah pergi dari tadi. Tapi di mana lelaki mirip dino itu berada?
Waktu terus berjalan dan Jino benar-benar sudah kesal. Dia sangat malu pada pegawai restoran tempat ia menunggu karena terus menunda pesanannya. Apalagi setelah hampir satu jam dia hanya memesan satu cangkir lemon tea hangat. Dengan perasaan malu, kecewa dan sedih yang bercampur jadi satu, Jino memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut dan pulang, lagi pula hari sudah semakin malam dan sepertinya akan turun hujan.
Namun saat akan melangkahkan kakinya menuju halte bus yang terletak tak jauh dari restoran, ingatannya kembali pada kejadian dua tahun lalu. Ini seperti deja vu. Dan tanpa sadar Jino mulai berlari semakin jauh meninggalkan halte bus, menyusuri jalan yang harusnya dilewati Jonghyun saat ini.
### An Encore ###
Jonghyun semakin mempercepat langkahnya,ia terpaksa berjalan kaki karena dompet miliknya tertinggal di rumah dan kabar buruk lainnya, dia meninggalkan smartphone-nya di dalam mobil yang mogok kehabisan bensin. Jonghyun tidak mungkin kembali untuk mengambil smartphone-nya karena dia sudah berjalan lumayan jauh dan kembali ke sana hanya akan membuang-buang waktu.
Tapi setidaknya dia masih bisa membelikan Jino-nya beberapa tangkai bunga mawar dengan beberapa koin yang ia temukan di dalam dasboard mobilnya tadi. Namun sepertinya kesialan Jonghyun malam ini belum berakhir, saat tinggal empat persimpangan lagi menuju restoran tempat ia janjian dengan Jino. Hujan tiba-tiba mulai turun dengan sangat lebat, dan berhasil membuatnya basah kuyup.
Awalnya Jonghyun memang berniat untuk berteduh terlebih dahulu. Tapi melihat jam di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 8.55, ia mengurungkan niatnya. Jam 8 lebih 55 menit, itu artinya dia sudah membuat Jino-nya menunggu selama 55 menit. Dan Jino bukan tipe orang yang akan menunggu selama itu. Jadi dengan bermodal nekat Jonghyun memilih untuk menerobos hujan tanpa menyadari kesialan lain yang mungkin akan kembali menimpa dirinya.
Dua persimpangan terakhir menuju restoran, Jonghyun semakin mempercepat langkah. Namun sialnya lampu untuk menyebrang sudah berubah merah dan Jonghyun harus menunggu selama beberapa detik sebelum ia bisa menyebrang dengan aman. Tak ada yang yang istimewa ketika Jonghyun menunggu, setidaknya belum, karena sebuah mobil berkecepatan tinggi tiba-tiba melintas di depan Jonghyun dan mencipratkan genangan air yang ada bahu jalan dan membuat penampilan Jonghyun makin kacau.
"Arghhhh, apa kau tidak punya mata?!" maki Jonghyun kesal pada si pengemudi mobil yang sudah melaju tanpa rasa bersalah. Jonghyun baru akan melanjutkan makiannya ketika menyadari bunga yang sedari ia genggam tidak ada di tangannya dan ia hampir menangis ketika melihat bunga tersebut sudah ada di tanah dan terinjak olehnya yang kesal barusan.
"Arghhhh, kenapa jadi seperti ini?!" katanya geram dan tanpa sadar membuat Jonghyun mulai berlutut dan menangis tersedu-sedu. Untung saja sedang hujan, jadi tidak ada orang yang melihat Jonghyun dengan tatapan aneh karena ia menangis sambil memeluk bunga yang kelopaknya hampir gugur semua.
Tangisan Jonghyun makin keras, sampai-sampai ia tidak sadar ada orang lain di seberang jalan yang memperhatikannya dengan tatapan khawatir. "Jjong-ie, kamu tidak apa-apa?" tanya orang itu ketika orang telah berhasil menyebrang jalan dan memayungi Jonghyun yang masih menangis di bawah hujan.
"Aku apa-apa, semuanya kac...," dan jawaban Jonghyun menggantung begitu saja ketika ia sadar bahwa ada orang lain bersamanya dan itu adalah... Jino!
"Jino-ya?" dan bukannya berhenti, Jonghyun malah menangis makin keras dan memeluk Jino yang kebingungan karena tak mengerti apa yang terjadi.
### An Encore ###
Jino masih tak mengerti apa yang terjadi, Jonghyun pun masih belum mau bercerita tentang apa yang menimpa dirinya. Dia hanya diam dan terus menatap lantai mini market 24 jam, tempat di mana mereka berada sekarang ini. Tapi setidaknya Jino sudah memastikan tidak ada luka apapun di tubuh Jonghyun yang artinya Jonghyun tak mengalami kecelakaan seperti dua tahun lalu.
"Jjong-ie, kamu benar-benar baik?" tanya Jino memastikan, jujur ini bukan Jonghyun-nya, karena Jonghyun yang Jino kenal adalah orang yang sangat percaya diri. Dan terakhir kali Jino melihat Jonghyun sekacau ini adalah saat ia gagal debut, dan itu sudah 5 tahun berlalu.
"Ya, aku baik," jawab Jonghyun dengan bibir bergetar entah karena dingin atau menahan tangis.
Jino hanya bisa menghela nafas dan berkata, "aku akan membeli ramyun dan hotpack, sepertinya kamu kedinginan, tunggu ya."
Sesekali Jino melirik Jonghyun yang terlihat makin murung, namun ia masih tak mengerti, bagaimana caranya menghibur Jonghyun. Dengan perasaan bingung Jino mulai membawa ramyun cup, hot pack dan air mineral yang ia beli ke kasir. Tapi saat ia selesai membayar, dan berbalik untuk menghampiri Jonghyun yang sedang duduk di kursi tempat mereka akan memakan ramyun cup mereka, Jonghyun sudah menghilang entah kemana.
"Jjong?" panggil Jino khawatir sambil menghampiri kursi tempat Jonghyun duduk tadi. Tak ada apapun di sana kecuali sebuah kotak beludru kecil yang entah sejak kapan ada di sana.
Jino menggapai kotak beludru itu dan membukanya, namun kotak yang merupakan tempat cincin itu kosong tak berisi. "Apa ini milik Jjong? Dia pasti menghilangkan isinya makanya dia jadi sesedih itu," simpul Jino dan bermaksud mulai mencari Jonghyun. Namun saat ia berbalik, ia mendapati Jonghyun sedang bersimpuh sambil menggenggam sesuatu di kedua tangannya.
"Jjong?"
"Aku tahu ini tidak romantis dan jauh dari rencana awalku, tapi..." dan Jonghyun tak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia mulai menangis lagi dan membuat Jino makin bingung. Jino tak tahu harus melakukan apa apa, jadi ia hanya memeluk Jonghyun dan berbisik, "tidak apa-apa" beberapa kali.
Setelah puas menangis, Jonghyun mulai tenang dan mulai memakan ramyunnya. Sesekali ia bergumam, "maafkan aku, aku gagal," dan membuat Jino makin banyak mengucap kata, "tidak apa-apa."
"Maafkan aku, Ji!"
"Jjong, aku sudah bilang 'tidak apa-apa' kan? Salahmu hanya membuatku menunggu dan khawatir, selebihnya tidak."
"Kamu salah, hari ini kesalahanku banyak sekali," balas Jonghyun muram, "ini salahku, makanya kita menghabiskan malam anniversary kita di tempat seperti ini."
"Memang apa yang salah dengan mini market 24 jam?" tanya Jino polos. "Gara-gara malam ini, setiap mendengar kata mini market 24 jam, pasti aku akan mengingat hari jadi kita yang ke-5," lanjut Jino membuat Jonghyun bingung.
"Kamu pasti bercanda, apa istimewanya tempat ini? Bukannya makan malam di restoran tempat kita pertama kencan lebih baik?"
"Tapi kita melakukannya setiap tahun dan rasanya tidak seistimewa saat pertama kita melakukannya," balas Jino sambil memanyunkan bibirnya imut.
"Kamu aneh!"
"Mungkin karena aku hanya butuh Kim Jonghyun, jadi di mana pun tempatnya, asal bersamamu, tidak akan jadi masalah," kata Jino memberi alasan dan membuat Jonghyun mulai menampakan senyumnya.
"Kamu sedang merayuku?"
"Tidak, memang benar kok. Tunggu! Kamu mau apa?"
"Aku ingin mencium Jino yang saat ini membuatku merasa lebih baik," jawab Jonghyun yang sudah mendekat dan makin mendekat, namun kalah cepat dengan Jino yang mengambil cup ramyun dan mengetukkannya di bibir Jonghyun.
"Jangan bertingkah yang aneh-aneh. Kamu harus ingat janjimu yang bilang tak akan melakukan hal-hal aneh padaku sebelum kita menikah?" kata Jino membuat Jonghyun mengingat tujuan awalnya saat ia bertemu Jino malam ini.
Jonghyun terpaksa memutar otaknya lagi, tujuan awalnya ini tak boleh gagal karena semua kesialannya hari ini, dia tidak mau kehilangan moment yang sudah ditunggunya sejak awal tahun.
Mata Jonghyun menangkap botol air mineral yang ada di hadapan Jino, isinya sisa setengah. Jika Jonghyun meminumnya sebagian, pasti Jino akan menghabiskan sisanya dalam sekali teguk. Karena itu tanpa berpikir panjang, Jonghyun meminum sebagian air tersebut. Tak lupa sedikit menyiramkannya ke benda yang ia genggam dan segera memasukan benda tersebut kedalam botol air mineral.
Jino sudah selesai memakan semua ramyunnya, dia terlihat sedikit kepedasan sehingga ketika Jonghyun menyodorkannya air mineral padanya, ia langsung meminumnya dengan rakus. Dan ini sesuai dengan rencana Jonghyun.
Rencana Jonghyun seperti akan berhasil karena Jino mulai menggenggam pergelangan tangan Jonghyun. Tapi genggamannya semakin keras dan wajah Jino terlihat sedikit membiru seperti kehabisan nafas. "Ji, are you ok?" tanya Jonghyun panik. Jino tak membalas ia malah menggenggam pergelangan tangan Jonghyun semakin erat.
"Jangan-jangan..." Jonghyun berharap dugaannya benar, jadi ia mulai memposisikan Jino untuk menelungkup dan menepuk-nepuk punggung Jino dengan keras.
Klotakk.
Bunyi tersebut membuat Jonghyun menghentikan tepukannya pada punggung Jino. Jino pun mulai terbatuk-batuk karena oksigen yang mulai berlomba-limba masuk ke dalam paru-parunya. "Itu tadi apa?" tanyanya dengan nafas kepayahan.
Jonghyun tak menjawab, ia malah terus-terusan mengatakan, "maafkan aku, Ji! Maafkan aku!"
Karena Jonghyun mengabaikan pertanyaannya, Jino berusaha mencari sendiri benda yang beberapa menit lalu sempat tersangkut di tenggorokannya. Dan matanya menangkap sesuatu di lantai, ada benda kecil berbentuk lingkaran di dekat kaki Jonghyun. Jino membungkuk dan mengambil benda yang ternyata sebuah cincin itu.
"Jangan-jangan ini isi kotak beludru itu?!" tanya Jino entah pada siapa.
"Ya?!" balas Jonghyun tak yakin.
"Tapi kenapa benda ini ada di botol air mineralku?" tanya Jino lagi seolah mengabaikan Jonghyun yang ada di sampingnya.
Jonghyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku yang memasukkannya, maafkan aku, aku hanya mencoba melakukan yang biasa dilakukan tokoh utama dalam drama ketika melamar kekasihnya, tapi ternyata itu malah hampir membunuhmu, maafkan aku," jelas Jonghyun pelan.
"Jjong~~"
"Maafkan aku, semua yang aku rencanakan untuk malam ini benar-benar gagal total, maafkan aku, Ji!"
"Hukks... hukks..."
"Ji?!"
Jino tak membalas Jonghyun, karena ia terlalu sibuk menangis karena terharu. "Ji, jangan menangis, maafkan aku," pinta Jjong sambil menghapus air mata Jino yang tak berhenti mengalir.
"Ini air mata bahagia, bodoh," protes Jino sebal, "aku tak akan melupakan malam ini seumur hidupku. Terima kasih, Jjong-ie."
"Huh?"
"Kamu bilang kamu mau melamarku kan? Pasangkan cincin ini di jariku!"
"Huh?"
"Bisakah kamu berhenti mengatakan 'huh', Jjong?!" protes Jino sambil menghapus air matanya yang masih mengalir, "katakan kamu mencintaiku."
"Aku mencintaimu, Ji!"
"Aku juga!"
"Walaupun aku hampir membunuhmu barusan?"
"Ya!"
"Terima kasih, Ji!"
### END ###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar